NUSA TENGGARA TIMUR — Aktivitas kegempaan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan intensitas tinggi dalam tujuh hari terakhir. Berdasarkan rekapitulasi data WRS-NTWC Indonesia–InaTEWS Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sedikitnya 651 kejadian gempa bumi tercatat pada sejumlah klaster wilayah di NTT dan perairan sekitarnya. WRS-BMKG menyediakan daftar gempa bumi real-time untuk periode tujuh hari terakhir sebagai salah satu sumber pemantauan aktivitas seismik.
Dari lima klaster yang dihimpun, Flores Region, Indonesia menjadi wilayah dengan aktivitas gempa tertinggi, yakni 379 kejadian dengan rata-rata magnitudo M3,25. Posisi berikutnya ditempati Flores Sea dengan 191 kejadian dan rata-rata magnitudo M3,39.
Sementara itu, Sumba Region, Indonesia mencatat 34 kejadian dengan rata-rata magnitudo M2,82. Aktivitas kegempaan juga terpantau di Savu Sea sebanyak 24 kejadian dengan rata-rata M3,09 serta Timor Region sebanyak 23 kejadian dengan rata-rata M2,67.
| Klaster Wilayah | Jumlah Kejadian | Rata-rata Magnitudo |
|---|---|---|
| Flores Region, Indonesia | 379 kali | M3,25 |
| Flores Sea | 191 kali | M3,39 |
| Sumba Region, Indonesia | 34 kali | M2,82 |
| Savu Sea | 24 kali | M3,09 |
| Timor Region | 23 kali | M2,67 |
| Total | 651 kali | sekitar M3,24 |
Dari keseluruhan data tersebut, magnitudo terendah dalam rekap tercatat M2,0, sedangkan gempa terbesar mencapai M7,7 dan berpusat di kawasan Flores.
Gempa utama M7,7 tersebut terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA. Hasil pemutakhiran BMKG menunjukkan pusat gempa berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer.
BMKG menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal yang dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Gempa M7,7 juga sempat memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah kawasan di NTT serta wilayah lain di sekitarnya. Peringatan dini tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak lagi terjadi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan.
Tingginya aktivitas seismik di sekitar Flores juga terlihat dari pemantauan khusus rangkaian gempa susulan. Dalam laporan terbaru pada 18 Agustus 2026, BMKG menyebut telah mendeteksi 2.119 gempa susulan hingga pukul 05.00 WIB, dengan rentang magnitudo M1,3 hingga M6,2. Dari jumlah tersebut, 24 kejadian memiliki magnitudo di atas M5 dan 70 gempa dilaporkan dirasakan masyarakat.
Angka 2.119 gempa susulan tersebut merupakan pemantauan khusus terhadap rangkaian aftershock gempa utama Flores M7,7 sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan rekap 651 kejadian berdasarkan lima klaster wilayah dalam daftar WRS tujuh hari terakhir. Perbedaan ruang lingkup pencatatan dan pengelompokan data dapat menghasilkan jumlah yang berbeda.
BMKG memperkirakan berdasarkan data sementara bahwa aktivitas gempa susulan masih dapat berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah terdampak, diminta tetap waspada terhadap gempa susulan serta menghindari bangunan yang telah mengalami retak atau kerusakan akibat guncangan.
Di tengah tingginya aktivitas kegempaan tersebut, masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan selalu mengikuti perkembangan melalui kanal resmi BMKG. BMKG menegaskan pemantauan aktivitas gempa bumi terus dilakukan dan informasi terbaru akan disampaikan secara berkala.
Sumber data: WRS-NTWC Indonesia – Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"NUSA TENGGARA TIMUR — Aktivitas kegempaan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan intensitas tinggi dalam tujuh..."