01 Oktober 2026

Darurat Kualitas Udara: Karhutla Jadikan Indonesia Penyumbang Emisi Karbon Tertinggi dan Ancam Kesehatan Anak

Admin Web Salamaid , Salam Tanggap
Darurat Kualitas Udara: Karhutla Jadikan Indonesia Penyumbang Emisi Karbon Tertinggi dan Ancam Kesehatan Anak
NewsAid - Siklus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda wilayah Indonesia, memicu krisis ekologi dan kesehatan masyarakat yang serius. Bencana tahunan ini telah menempatkan Indonesia sebagai penyumbang emisi karbon tertinggi di dunia yang diakibatkan oleh karhutla.

Dampak terburuk dari krisis ini terlihat pada lonjakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Berdasarkan data pemantauan kualitas udara, Kota Palangkaraya di Kalimantan Tengah menduduki peringkat pertama dengan angka ISPU 216 (status "Parah"), yang berarti polusi udara berada 11 kali di atas nilai standar. Kondisi serupa terjadi di Jambi yang mencatatkan angka 210 dengan status "Parah", disusul oleh Palembang (192) dan Sampit (180) yang masuk dalam kategori "Tidak Sehat".

Secara spesifik di Pulau Kalimantan, kualitas udara memburuk secara signifikan. Pada puncak konsentrasi PM2.5, stasiun pemantauan BMKG mencatat Palangka Raya masuk dalam kategori "Sangat Tidak Sehat" hingga "Berbahaya" dengan angka AQI menyentuh 250. Wilayah lain seperti Muarateweh tercatat memiliki AQI 186, sedangkan Pontianak berkisar antara 136 hingga 186 akibat paparan kabut asap tipis dari titik panas lokal. Sebagai perbandingan, batas aman ISPU berada pada rentang 0–50; semakin tinggi angka indeksnya, maka udara tersebut semakin beracun dan berisiko tinggi bagi kesehatan manusia.

Kondisi udara yang beracun ini memakan korban dari kelompok paling rentan. Berbagai laporan dan keluhan masyarakat menunjukkan bahwa banyak anak kecil harus dilarikan ke rumah sakit atau Instalasi Gawat Darurat (IGD) akibat sesak napas dan pneumonia yang kambuh. Anak-anak terpaksa berjuang dengan batuk parah yang berlangsung berminggu-minggu, hingga harus bergantung pada alat bantu pernapasan seperti nebulizer dan selang oksigen di dalam rumah sakit maupun saat rawat jalan.

Melihat pola bencana yang terus berulang setiap tahun, penanganan karhutla membutuhkan evaluasi strategis. Langkah mitigasi tidak boleh lagi sebatas meredam dampak di permukaan atau sekadar memadamkan api yang sudah terlanjur membesar. Upaya yang dilakukan harus menyasar pada penyelesaian akar masalah, yang menuntut penegakan aturan secara ketat dan penghentian total terhadap praktik pembakaran lahan.
"NewsAid - Siklus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda wilayah Indonesia, memicu krisis ekologi dan keseh..."
Admin Web Salamaid
Salam Tanggap