NewsAid - KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT — Langit di atas Kalimantan Barat masih muram, tersaput oleh kabut asap yang pekat. Berdiri di tengah hamparan lahan gambut yang telah menghitam di Kabupaten Kubu Raya, udara terasa begitu sesak dan suhu panas masih memancar kuat dari dalam tanah. Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali menguji ketangguhan warga dan para petugas di lapangan.
Dari pantauan langsung di lokasi, sisa-sisa kebakaran lahan gambut masih meninggalkan ancaman serius. Meski kobaran api utama telah berhasil dijinakkan, kepulan asap tebal terus keluar dari rekahan tanah. "Api memang sudah padam, tapi kondisinya masih memanas dan berasap. Ini tentu bisa menimbulkan titik api kembali," lapor Ruby(21) relawan medis dari Tim SalamAid yang bersiaga di lokasi.
Di tengah pekatnya asap, para petugas pemadam kebakaran gabungan dari berbagai instansi terus berjibaku tanpa henti menyemprotkan air ke titik-titik yang masih berasap. Mengingat risiko kesehatan yang sangat tinggi, Tim medis SalamAid turun langsung menyusuri area terbakar untuk mendistribusikan logistik berupa masker kuning berstandar medis kepada para pahlawan pemadam api di garis depan, sekaligus mengecek kondisi kesehatan mereka yang kelelahan.
Sinergi Lintas Lembaga Melawan Bencana
Upaya penanggulangan di lapangan ini tidak dilakukan sendirian. Berdasarkan laporan terkini dari Tim SalamAid Kalimantan Barat, sebuah operasi tanggap darurat yang masif dan terkoordinasi sedang dijalankan untuk dua pekan ke depan. Sinergi ini melibatkan:
BPBD Provinsi Kalimantan Barat: Sebagai pusat komando koordinasi dan laporan pergerakan aksi di lapangan.
PMI Kota Pontianak: Berfokus pada mitigasi dampak kesehatan warga dan penyetaraan stok masker darurat.
Dompet Umat: Mengonsolidasikan sumber daya relawan, manajemen logistik bantuan, serta kolaborasi aksi tanggap darurat.
Selain pemadaman di Kubu Raya, upaya preventif juga digencarkan di pusat kota. Di Pontianak, pembagian masker gratis terus dilakukan dan menyasar para pengguna jalan, pekerja harian lepas, serta warga di kelompok rentan. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah lonjakan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kualitas udara yang memburuk.
Bencana Ganda: Krisis Air Bersih Hantam Warga
Sayangnya, kabut asap bukanlah satu-satunya mimpi buruk yang harus dihadapi warga Kalimantan Barat saat ini. Temuan asesmen lapangan Tim SalamAid mengungkap fakta bahwa masyarakat di wilayah Pontianak dan sekitarnya kini tengah berhadapan dengan krisis air bersih yang parah.
Kemarau panjang telah memicu intrusi air laut ke aliran sungai yang menjadi sumber air utama warga. Akibatnya, pasokan air yang mengalir ke rumah-rumah penduduk kini terasa asin dan dipastikan tidak layak konsumsi.
Kondisi ini memicu panic buying dan kelangkaan pasokan yang berujung pada meroketnya harga air bersih. Harga air yang dibeli melalui armada truk tangki berkapasitas 6.000 hingga 8.000 liter kini melonjak drastis, tak masuk akal, menyentuh angka Rp1.200.000 hingga Rp1.500.000 per tangkinya. Angka ini tentu mencekik leher, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah.
Menyikapi temuan krisis ganda ini, Tim SalamAid telah merumuskan rencana tindak lanjut yang mendesak. Prioritas utama saat ini adalah pengadaan program distribusi air bersih gratis, yang akan difokuskan dan disalurkan langsung ke kantong-kantong pemukiman warga prasejahtera.
Di tengah lahan gambut yang masih mengepulkan asap dan krisis air yang melanda, perjuangan kemanusiaan di Kalimantan Barat masih jauh dari kata usai. Para relawan dan petugas gabungan terus bersiaga, memastikan keselamatan dan napas warga tetap terjaga.
(Tim SalamAid Melaporkan langsung dari Kubu Raya, Kalimantan Barat)
"NewsAid - KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT — Langit di atas Kalimantan Barat masih muram, tersaput oleh kabut asap yang pekat..."