AID NEWS – Di tengah hiruk-pikuk posko SalamAid di Aceh Tamiang, ada sosok muda yang jarang terlihat di garis depan, tetapi perannya sangat menentukan.
Dewi (22), warga Aceh Tamiang, memilih bergabung sebagai relawan SalamAid untuk membantu sesama warga yang terdampak bencana.
Di SalamAid, Dewi dipercaya sebagai Admin Logistik, tugasnya mengatur, mencatat, dan memastikan keluar masuknya bantuan logistik berjalan tertib sebelum disalurkan kepada para penyintas banjir bandang. Dari sembako hingga kebutuhan dasar lainnya, semua harus tercatat rapi agar bantuan tepat sasaran.
“Awal mula Dewi gabung sama SalamAid itu pada tahun 2022 di Kota Langsa, pada saat saat itu sekolah alam Bustanul Fakr menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Kota Langsa,” tutur Dewi mengenang awal perjalanannya kepada wartawan Radar Bogor Muhammad Ali di lokasi Aceh Tamiang.
Pada momen tersebut, Dewi diajak oleh seorang relawan bernama Abdullah untuk ikut membantu mendistribusikan sembako kepada warga dan penyintas banjir di Kota Langsa, dari situlah, keterlibatan Dewi di dunia kerelawanan dimulai.
“Terus saya diajak Bang Abdullah gabung untuk distribusi sembako ke penyitas atau warga Kota Langsa, di situlah saya kenal Bang Musa,” ujarnya, Selasa, 6 Januari 2026.
Pertemuan dengan para relawan SalamAid membuka pandangan Dewi tentang arti membantu sesama. Meski saat itu ia belum terlibat secara penuh, pengalaman turun langsung ke lapangan meninggalkan kesan mendalam.
Tiga tahun berselang, bencana kembali datang. Banjir bandang melanda Aceh Tamiang pada hari Kamis, 27 November 2025. Kali ini, Dewi tak sekadar menjadi saksi. Ia memilih kembali bergabung dengan SalamAid, mengambil peran yang lebih besar sebagai Admin Logistik.
“Saya ikut bergabung lagi di SalamAid sebagai admin logistik,” katanya.
Menjadi relawan di daerah sendiri menghadirkan perasaan yang berbeda. Dewi tidak hanya mengurus data bantuan, tetapi juga berhadapan langsung dengan cerita para penyintas yang sebagian adalah tetangga, kerabat, bahkan orang-orang yang ia kenal sejak kecil.
Bekerja di balik cacatan logistik bukan tanpa tantangan. Dewi harus teliti mencatat setiap bantuan yang masuk dan keluar, memastikan tidak ada yang terlewat, serta menyesuaikan kebutuhan di lapangan yang terus berubah. Dalam situasi darurat, kesalahan kecil bisa berdampak besar.
Namun bagi Dewi, semua lelah itu terbayar ketika melihat bantuan sampai ke tangan yang membutuhkan. Ia percaya, solidaritas warga menjadi kekuatan utama dalam menghadapi bencana.
Kehadiran Dewi di SalamAid menjadi gambaran nyata bahwa dalam situasi krisis, warga bukan hanya objek bantuan, tetapi juga subjek yang bergerak saling menguatkan. Dari warga, oleh warga, untuk warga.
Koordinator Relawan SalamAid, Muhammad Musa, menilai kehadiran relawan lokal seperti Dewi sangat penting. Selain memperkuat kerja kemanusiaan, mereka menjadi jembatan antara relawan luar daerah dan warga terdampak.
“Dengan adanya Dewi sebagai relawan lokal, SalamAid sangat terbantu,” kata Musa.
Di Aceh Tamiang, semangat warga bantu warga itu hidup melalui langkah-langkah kecil Dewi dan para relawan lainnya. Mereka mungkin tak selalu terlihat, tetapi kontribusinya menjadi penopang penting bagi pemulihan pascabencana.
sumber : RADAR BOGOR
"AID NEWS – Di tengah hiruk-pikuk posko SalamAid di Aceh Tamiang, ada sosok muda yang jarang terlihat di garis depan, tet..."