AID NEWS — Wulan Sofia, yang akrab disapa Wulan, bukan anggota kepolisian maupun TNI, melainkan relawan SalamAid.
Dia sekaligus dokter forensik asal Tasikmalaya yang memilih bekerja di ruang sunyi, jauh dari sorotan kamera.
Di sanalah ia berada di tengah duka korban bencana, pada situasi ketika negara kerap hadir paling akhir.
Keterlibatan Wulan di SalamAid bermula dari peristiwa gempa Bandung pada 2024 di Kecamatan Kertasari.
Dalam misi kemanusiaan tersebut, ia berjumpa dengan seorang tenaga medis berlatar belakang farmasi yang telah lebih dulu aktif dalam penanganan kebencanaan.
Pertemuan sederhana di lapangan itu menjadi pintu masuk bagi Wulan untuk terlibat lebih jauh dalam kerja-kerja kemanusiaan. Dari obrolan lapangan ke lapangan, relasi itu berlanjut.
Wulan kemudian diajak bergabung dengan SalamAid, lembaga kemanusiaan berbasis di Bogor yang aktif tidak hanya dalam respons darurat kebencanaan, tetapi juga pendampingan sosial dan medis jangka panjang.
“Diajak sama teman yang ketemu itu, gabung aja di SalamAid. Karena di sana kegiatannya banyak, selain kegiatan sosial, juga bisa jadi pendamping medis untuk anak-anak sekolah alam,” ujarnya kepada Radar Bogor, Kamis 29 Januari 2026.
Dua bulan lalu, kabar banjir bandang dan longsor beruntun kembali memanggil Wulan ke lapangan. Perjalanan dimulai dari Cilacap dan Banjarnegara, Jawa Tengah.
Di Cilacap, longsor menelan satu kampung dengan jumlah korban jiwa sekitar 21 orang. Sementara di Banjarnegara, korban mencapai sekitar 28 jiwa.
“Abis dari situ lanjut ke Sibolga, abis Sibolga ke Tapanuli Tengah, terus Aceh Tamiang, Aceh Tengah, berurutan sampai pulang sekarang,” katanya.
Di sela rangkaian misi tersebut, Wulan sempat pulang sebentar untuk mengikuti ujian kuliah S2.
Setelah ujian selesai, ia kembali berangkat ke lokasi bencana berikutnya.
“Belajarnya di lapangan, karena kalau forensik memang basic-nya di lapangan jadi kesempatanlah, sambil menyelam minum air,” tuturnya.
Bagi Wulan, luka akibat bencana tidak berhenti pada jasad yang harus diidentifikasi atau korban yang berhasil diselamatkan.
Ada luka lain yang lebih sunyi, namun jauh lebih panjang: trauma para penyintas.
Menurutnya, banyak korban selamat yang secara fisik tampak baik-baik saja, tetapi secara psikologis berada dalam kondisi rapuh.
Ketakutan berlebihan saat hujan turun, mimpi buruk berulang, hingga kecemasan ekstrem menjadi gejala yang kerap ia temui di pengungsian.
Ia menilai pendampingan psikososial sering kali luput dari perhatian, terutama di wilayah bencana yang minim sorotan media.
Padahal, pengalaman menyaksikan langsung rumah dihantam banjir, anggota keluarga terseret arus, hingga bertahan hidup di tengah kepanikan massal, meninggalkan bekas mendalam.
Wulan mengingat satu kisah yang hingga kini melekat di ingatannya. Seorang ibu bercerita bahwa hujan menjadi sumber ketakutan terbesar baginya.
“Waktu kejadian, mereka lari ke jembatan yang lebih tinggi. Dari situ mereka lihat air yang bawa kayu-kayu besar menghantam rumah, menghantam manusia, kalau aku di posisi ibu itu, mental pasti kena,” ungkapnya.
Dalam situasi seperti itu, kehadiran negara menurut Wulan masih terasa sangat minim.
Dia menyoroti lambannya respons pencarian korban, terbatasnya fasilitas forensik, hingga absennya sistem pendataan yang memadai di sejumlah lokasi bencana besar.
“Orang-orang kalau mau nyari korban yang tertimbun itu, harus ada aduan dari keluarga sendiri, jadi pemerintahnya kurang aware,” ucapnya.
Pengalaman bekerja hampir sendirian, tanpa dukungan aparat maupun fasilitas yang layak, menjadi potret lain dari kerja-kerja kemanusiaan yang kerap dilakukan dalam keterbatasan.
Namun bagi Wulan, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. “Jadi pencatatannya langsung ke aplikasi forensik sendiri. Kita catat sendiri, dan itu aku yang ngelakuin sendiri,” tuturnya.
Sebagai dokter forensik, Wulan sadar betul tugasnya bukan sekadar mengidentifikasi korban, tetapi juga membantu keluarga menemukan kepastian.
Kepastian yang, meski pahit, sering kali jauh lebih manusiawi daripada menunggu tanpa jawaban.
Kini, meski telah kembali dari rangkaian panjang misi kemanusiaan, Wulan mengaku pikirannya masih tertinggal di sejumlah lokasi bencana.
Terutama Garoga wilayah yang menurutnya menjadi salah satu tragedi paling sunyi dan paling parah yang pernah ia saksikan.
“Mereka aja enggak nyangka bisa selamat. Terus yang bikin khawatir itu, ketika relawan sudah pulang,” ujarnya.
Di tengah minimnya sorotan, kerja-kerja seperti yang dilakukan Wulan dan relawan SalamAid menjadi pengingat bahwa di balik angka korban dan laporan resmi, ada manusia, ada duka, dan ada trauma yang masih menunggu untuk disembuhkan.
sumber : RADAR BOGOR
"AID NEWS — Wulan Sofia, yang akrab disapa Wulan, bukan anggota kepolisian maupun TNI, melainkan relawan SalamAid.Dia sek..."