NewsAid— Dua bulan sudah hujan enggan membasahi bumi Kabupaten Bogor. Dampaknya, sumur-sumur warga yang biasanya menjadi sumber kehidupan kini mengering dan hanya menyisakan tanah retak. Bagi ratusan keluarga di Desa Cijayanti, Babakan Madang, dan Kampung Wates, Rancabungur, mendapatkan air jernih kini menjadi perjuangan fisik yang melelahkan setiap harinya.
Di Cijayanti, rutinitas pagi warga berubah drastis. Tak sedikit dari mereka yang harus berjalan kaki memikul cucian sejauh satu kilometer menuju aliran Sungai Cikeas di bawah terik matahari. Bagi warga yang tak sanggup berjalan jauh, pilihannya hanya satu: merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air galon isi ulang sekadar untuk mandi dan mencuci piring.
Namun, pemandangan berbeda terlihat pada Rabu (22/7/2026) pagi. Puluhan warga dari RW 01 dan RW 06 Desa Cijayanti, serta warga Kampung Wates RW 02, tampak berbaris rapi. Mereka membawa ember, jeriken, hingga baskom beraneka warna. Antrean panjang itu bermuara pada kehadiran armada tangki air dari lembaga kemanusiaan SalamAid.
Hari itu, sebanyak 16.000 liter air bersih tumpah ruah, menghapus dahaga di dua desa berbeda. Setengahnya dialirkan untuk 300 Kepala Keluarga di Cijayanti, dan setengahnya lagi menyejukkan sekitar 1.000 jiwa di Kampung Wates. Air jernih yang mengucur dari selang tangki disambut dengan senyum dan rasa syukur.
Bagi warga, ini bukan sekadar bantuan air, melainkan jeda dari kelelahan fisik dan finansial mereka selama berbulan-bulan.
"Kami sangat berterima kasih. Jujur, sampai hari ini belum ada bantuan air bersih lain yang masuk ke wilayah kami," ungkap Dedi Rahmat, Ketua RT 07 Cijayanti, dengan raut lega. "Bantuan ini benar-benar meringankan beban warga di tengah situasi sulit seperti sekarang."
Selama kemarau belum usai, krisis di wilayah pinggiran Jabodetabek masih menjadi ancaman nyata. Hadirnya bantuan air bersih menjadi pengingat bahwa kepedulian kecil bisa menjadi penyambung napas bagi mereka yang tengah berjuang melawan kerasnya alam.
"NewsAid— Dua bulan sudah hujan enggan membasahi bumi Kabupaten Bogor. Dampaknya, sumur-sumur warga yang biasanya menjadi..."