SULAWESI TENGAH — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data penanganan darurat pasca-gempa tektonik bermagnitudo 6,7 yang mengguncang kawasan Sulawesi Tengah. Berdasarkan data per Rabu (17/6/2026), gempa dangkal ini telah berdampak pada puluhan desa, menelan korban jiwa, dan memicu kerusakan infrastruktur yang masif, dengan Kabupaten Sigi sebagai wilayah terdampak paling parah.
Guncangan gempabumi ini melumpuhkan aktivitas di berbagai wilayah. BNPB mencatat total akumulasi warga terdampak mencapai 1.834 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 5.784 jiwa.
Berikut adalah ringkasan evakuasi dan korban jiwa:
1 orang dilaporkan meninggal dunia.
76 orang mengalami luka-luka (terdiri dari 13 luka berat dan 63 luka ringan).
312 jiwa (110 KK) terdampak langsung secara signifikan.
Proses asesmen di lapangan menunjukkan tingginya angka kerugian material. Terdapat estimasi total 847 bangunan rusak, yang mencakup perumahan warga, fasilitas umum, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Kategorisasi tingkat kerusakan bangunan meliputi:
Rusak Ringan: 720 unit
Rusak Sedang: 68 unit
Rusak Berat: 12 unit
Luasan area terdampak mencakup 33 desa di 10 kecamatan berbeda. Fokus penanganan darurat saat ini diarahkan ke Kabupaten Sigi yang menjadi wilayah terparah. Kerusakan di Sigi terkonsentrasi di 7 kecamatan dan 30 desa, dengan kawasan Palolo dan Nokilalaki menjadi titik yang mendapat perhatian khusus.
Selain Sigi, dampak gempa bumi turut dilaporkan dan menyebar di empat wilayah administrasi lainnya:
Kota Palu
Kabupaten Parigi Moutong
Kabupaten Poso
Kabupaten Donggala
Dalam upaya percepatan penanganan bencana, Tim Reaksi Cepat (TRC) bersama Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Sulawesi Tengah dan jajaran BPBD kabupaten terkait tengah bersiaga di lokasi. Tim memfokuskan operasi pada asesmen kebutuhan mendesak, evakuasi, dan koordinasi lapangan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Sulawesi Tengah (BPBD Sulteng), Andi Sembiring, memastikan bahwa pemantauan aktivitas seismik terus dilakukan secara ketat.
"Saat ini, frekuensi kejadian gempa dilaporkan mulai menurun. Pemerintah menghimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan adanya gempa susulan," ungkap Andi.
"SULAWESI TENGAH — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data penanganan darurat pasca-gempa tek..."