NewsAid — Upaya membangun ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat perkotaan terus dilakukan oleh warga RW 09 dan RW 19, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur. Setelah sebelumnya berhasil membudidayakan kangkung dan bayam hijau, warga kini kembali mencatatkan keberhasilan melalui panen perdana tanaman pakcoy hidroponik pada 10 Juni 2026.
Tanaman pakcoy tersebut mulai melalui proses penyemaian pada 26 Mei 2026. Dengan perawatan yang teratur dan penggunaan nutrisi yang tepat, tanaman dapat tumbuh secara optimal hingga memasuki masa panen.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan di kawasan perkotaan bukan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk tetap produktif. Melalui metode hidroponik, warga dapat membudidayakan sayuran dengan memanfaatkan ruang yang terbatas tanpa membutuhkan lahan tanah yang luas.
Metode hidroponik dipilih sebagai salah satu solusi pertanian perkotaan atau urban farming karena dinilai memiliki berbagai keunggulan. Selain lebih efisien dalam penggunaan lahan, hasil tanaman hidroponik juga cenderung lebih bersih, higienis, dan memiliki risiko gangguan hama yang lebih rendah.
Sistem hidroponik juga memungkinkan penggunaan air yang lebih efisien karena air dan nutrisi dapat dialirkan serta digunakan kembali dalam sistem budidaya. Dengan pengelolaan yang baik, metode ini dinilai mampu menghemat penggunaan air secara signifikan dibandingkan pertanian konvensional.
Tidak hanya berkontribusi terhadap ketersediaan pangan sehat, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang usaha dan sumber penghasilan baru bagi warga. Hasil panen nantinya diharapkan dapat dikonsumsi oleh masyarakat sekitar maupun dipasarkan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok.
Program pertanian hidroponik ini digerakkan oleh para perempuan dan ibu rumah tangga di lingkungan RW 09 dan RW 19 Katulampa. Sebanyak 46 warga terlibat dan terbagi ke dalam lima kelompok budidaya berdasarkan jenis tanaman.
Kelompok budidaya kangkung melibatkan 10 orang, bayam hijau sebanyak enam orang, pakcoy sebanyak 10 orang, selada sebanyak 10 orang, serta bayam merah sebanyak 10 orang.
Pembagian kelompok tersebut dilakukan agar proses penanaman, perawatan, pemantauan nutrisi, hingga panen dapat berlangsung lebih terarah. Setiap anggota juga memperoleh kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola pertanian hidroponik.
Keterlibatan warga, khususnya para ibu, menjadi salah satu kekuatan utama dalam keberlangsungan program. Selain menghasilkan sayuran sehat, kegiatan ini juga menjadi ruang pemberdayaan masyarakat serta memperkuat kerja sama dan semangat gotong royong antarwarga.
Program budidaya hidroponik tersebut didukung dengan total anggaran sebesar Rp48.600.000. Anggaran dialokasikan secara menyeluruh untuk mendukung keberlanjutan kegiatan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Dana tersebut digunakan untuk pelaksanaan pelatihan intensif bagi warga, pembangunan greenhouse, serta pengadaan berbagai alat dan bahan pendukung budidaya. Sarana yang disediakan antara lain netpot, rockwool, bibit unggul, nutrisi atau pupuk tanaman, serta perlengkapan hidroponik lainnya.
Pelatihan menjadi bagian penting dalam program ini agar warga tidak hanya menerima bantuan berupa fasilitas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola kegiatan secara mandiri. Para peserta dibekali pengetahuan mulai dari proses penyemaian, pemindahan bibit, pemberian nutrisi, pengendalian kualitas air, perawatan tanaman, hingga penanganan hasil panen.
Dengan adanya pengetahuan dan sarana produksi tersebut, kelompok warga diharapkan mampu melanjutkan budidaya secara berkelanjutan serta mengembangkan hasil pertanian menjadi kegiatan ekonomi produktif.
Panen pakcoy hidroponik ini menjadi langkah nyata masyarakat Katulampa dalam memperkuat kemandirian pangan di tingkat lingkungan. Program tersebut juga menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat dikembangkan di tengah kawasan perkotaan melalui penerapan metode yang tepat dan inovatif.
Dengan semangat kebersamaan, warga RW 09 dan RW 19 Katulampa membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah hambatan untuk menghasilkan pangan sehat dan berkualitas. Pemanfaatan teknologi hidroponik justru membuka peluang bagi masyarakat untuk lebih mandiri, produktif, dan memiliki sumber pendapatan tambahan.
Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat terus berkembang, baik dari sisi jumlah tanaman, kapasitas produksi, maupun jangkauan pemasaran. Keberhasilan warga Katulampa juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lingkungan lainnya untuk memanfaatkan lahan terbatas sebagai pusat pertanian perkotaan yang produktif dan berkelanjutan.
"NewsAid — Upaya membangun ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat perkotaan terus dilakukan..."