Jakarta — Polusi plastik kini tidak lagi hanya mencemari sungai, laut, dan daratan. Ancaman baru yang lebih sulit terlihat tengah menyebar melalui udara yang kita hirup setiap hari. Partikel-partikel mikroplastik yang berukuran sangat kecil telah ditemukan di berbagai wilayah perkotaan di Indonesia, bahkan terdeteksi di dalam paru-paru manusia, termasuk pada anak-anak yang mengalami gangguan pernapasan.
Temuan ini menjadi alarm serius bahwa krisis plastik telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih luas.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) bersama South East Asia Journalism Network (SIEJ) pada periode Mei hingga Juli 2025, mikroplastik ditemukan di udara sejumlah kota di Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jakarta Pusat memiliki konsentrasi mikroplastik tertinggi, yakni sekitar 37 partikel per 2 meter kubik udara. Posisi berikutnya ditempati Jakarta Selatan dengan sekitar 30 partikel. Sementara itu, Bandung, Semarang, dan Kupang juga menunjukkan tingkat kontaminasi yang cukup signifikan.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat perkotaan berpotensi terpapar mikroplastik setiap hari melalui aktivitas bernapas, baik di dalam ruangan maupun di lingkungan terbuka.
Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil, umumnya kurang dari 5 milimeter. Meski ukurannya nyaris tidak terlihat oleh mata, partikel ini dapat menyebar luas dan bertahan lama di lingkungan.
Para peneliti mengidentifikasi dua sumber utama mikroplastik di udara:
Pertama, remahan plastik, yaitu serpihan kecil yang berasal dari kantong plastik, botol, kemasan, dan berbagai produk plastik lainnya yang mengalami pelapukan akibat panas, sinar matahari, serta faktor lingkungan.
Kedua, serat sintetis, yang berasal dari pakaian berbahan poliester, nilon, akrilik, dan material sintetis lainnya. Serat-serat halus tersebut dapat terlepas saat pakaian digunakan, dicuci, maupun dijemur, kemudian terbawa oleh aliran udara.
Karena ukurannya yang sangat kecil dan ringan, mikroplastik mampu melayang di atmosfer dalam waktu lama sehingga mudah terhirup oleh manusia.
Kekhawatiran terhadap dampak mikroplastik semakin menguat setelah sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology pada tahun 2023 menemukan keberadaan mikroplastik dalam cairan paru-paru anak-anak yang mengalami gangguan pernapasan, seperti asma dan pneumonia.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 89,6 persen sampel yang diperiksa mengandung mikroplastik, dengan sebagian besar partikel berukuran di bawah 20 mikrometer (µm).
Ukuran yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut menembus lebih dalam ke saluran pernapasan dan mencapai area paru-paru yang sensitif. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa paparan mikroplastik dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan manusia, terutama pada anak-anak yang sistem pernapasannya masih berkembang.
Para peneliti juga mengungkapkan bahwa tingkat paparan mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia kemungkinan jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya. Karena dapat melayang bebas di udara, mikroplastik berpotensi terhirup dalam jumlah besar tanpa disadari.
Beberapa kajian memperkirakan jumlah paparan mikroplastik melalui udara dapat meningkat hingga puluhan bahkan ratusan kali lipat dari prediksi awal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pencemaran plastik tidak lagi hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi telah berkembang menjadi isu kesehatan yang nyata dan terjadi saat ini.
Meskipun mikroplastik telah tersebar luas di lingkungan, masyarakat tetap dapat berkontribusi dalam mengurangi sumber pencemarannya melalui langkah-langkah sederhana, seperti:
Mikroplastik mungkin tidak terlihat oleh mata, tetapi dampaknya semakin nyata. Temuan keberadaan partikel plastik di udara dan dalam paru-paru anak-anak menjadi pengingat bahwa krisis plastik telah memasuki ruang hidup paling mendasar manusia: udara yang dihirup setiap detik.
Melindungi generasi mendatang dari ancaman ini membutuhkan upaya bersama, mulai dari perubahan gaya hidup, pengurangan penggunaan plastik, hingga peningkatan kesadaran masyarakat. Sebab menjaga lingkungan bukan hanya tentang melestarikan alam, tetapi juga tentang menjaga kesehatan dan kualitas hidup manusia di masa depan.
"Jakarta — Polusi plastik kini tidak lagi hanya mencemari sungai, laut, dan daratan. Ancaman baru yang lebih sulit terlih..."