Di tengah pekatnya kabut asap dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas, garis depan pertempuran menundukkan si jago merah tidak hanya didominasi oleh kaum pria. Lembaga kemanusiaan Salamaid merespons kondisi krisis ini dengan meluncurkan kampanye bertajuk "Srikandi Pemadam Api". Melalui inisiatif ini, sebanyak lima personel perempuan tangguh diterjunkan langsung ke lokasi terdampak di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Kehadiran para relawan perempuan ini di area terdampak merupakan intervensi penanganan langsung yang menuntut ketahanan fisik serta keahlian taktis. Skuad Srikandi Pemadam Api diperkuat oleh lima individu dengan latar belakang profesi yang berbeda namun saling melengkapi. Fokus pemadaman api dan mitigasi lahan secara taktis dieksekusi oleh Adel sebagai Environmental Activist, Riska sebagai Outdoor Activist, serta Mala yang berkiprah sebagai Community Activist. Mereka bahu-membahu menembus asap pekat di medan yang sulit dijangkau demi menekan eskalasi kebakaran.

Tugas tim relawan ini mencakup spektrum penanganan bencana yang komprehensif dan tidak terbatas pada area gambut yang membara. Lini kesehatan dan perlindungan kelompok rentan turut diperkuat oleh Ruby, seorang Medical Volunteer yang bertugas memastikan kesehatan fisik para relawan di lapangan. Di saat yang bersamaan, Syakira yang bertugas sebagai Child Activist mengambil peran vital untuk menangani dampak psikologis pada anak-anak akibat paparan asap karhutla. Seluruh rangkaian misi kemanusiaan ini dijadwalkan berlangsung intensif selama 14 hari penuh di garis depan.

Inisiatif Salamaid ini mematahkan stigma bahwa penanggulangan bencana berskala besar hanya dapat dilakukan oleh laki-laki, sekaligus membuktikan bahwa keberanian perempuan mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keselamatan warga dan pelestarian lingkungan. Melalui dedikasi lima personel lintas keahlian ini, Tim Srikandi Pemadam Api tidak hanya berupaya memulihkan kondisi pemukiman sekitar agar kembali aman, tetapi juga diharapkan mampu menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk berkontribusi aktif dalam aksi kemanusiaan.